Ilmu Bahasa di antara Ilmu Pengetahuan Sosial dan Ilmu Pengetahuan Alam: Batasan dan Relasinya
Ditulis oleh Aan Setyawan Published 12/03/2018 edited 04/11/2018

aan.setyawan@ui.ac.id

Ada hal yang menarik tatkala kita membahas relasi antara Ilmu Pengetahuan Budaya (selanjutnya disingkat IPB) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Adakah dikotomi yang jelas di antara kedua disiplin ilmu tersebut? Jikalau ada, apakah ada relasi yang kuat antara kajian IPB dan IPS? Karena kita tahu, sebut saja, kebudayaan berhubungan dengan masyarakat. Apakah kebudayaan bagian dari struktur sosial atau justru sebaliknya, struktur sosial adalah bagian dari kebudayaan? Masinambow (2004: 1-50) menjabarkan dengan apik bagaimana kedudukan IPB dan IPS serta Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Selain itu, Masinambow juga menjelaskan bagaimana kedudukan linguistik dalam relasinya dengan Ilmu Pengetahuan lainnya. Berikut ini beberapa pemikiran Masinambow mengenai ihwal 'kebudayaan' dalam artikelnya yang berjudul Teori Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Budaya dan di bagian akhir, akan disampaikan pendapat saya mengenai gagasan-gagasan Masinambow.

Ilmu Pengetahuan Budaya, Ilmu Pengetahuan Sosial, dan Humaniora

Sebelum membahas perbedaan mengenai perbedaan IPB dan IPS, Masinambow terlebih dahulu mengkontraskan antara IPA dan IPB. Secara prinsip, IPA –naturwissenschaften- memiliki tujuan memformulasikan kaidah hukum-hukum alam yang universal. Dengan demikan, manakala sebuah hukum ditemukan dan ditetapkan, maka hukum tersebut dianggap berlaku secara universal tanpa terkecuali, misalnya hukum kekekalan energi akan sama baik di Jakarta maupun di New York, sedangkan IPB –kulturwissenschaften- memiliki tujuan mencari apa-apa yang ada dalam diri manusia sehingga bertindak menurut pola-pola tertentu.

Baca Juga : Mengupas Fenomena Kids Zaman Now dalam Kebudayaan

_ _ Secara garis besar, perbedaan antara IPA dan IPB dapat digambarkan dalam tabel berikut ini:

No. Ilmu Pengetahuan Alam Ilmu Pengetahuan Budaya
1. Hukumnya bersifat universal tidak bersifat universal; tetapi melihat keteraturan yang terdapat dalam hubungan antar manusia.
2. Peneliti berada di luar objek pengamatan Peneliti sebagai subjek seolah-olah berada dalam kondisi objek (empati-simpati)
3. Bersifat nomoteis (ilmiah) Bersifat ideografis/idealistik

Secara garis besar, kebudayaan dibagi ke dalam dua kelompok besar. Pertama adalah kebudayaan yang bersifat materliastis yang cenderung dikaji melalui pendekatan positivisme ala IPA, misalnya berkaitan dengan manusia menggarap lingkungan bisfisika dan adaptasi kehidupan dengan lingkungan. Kedua adalah konsep kebudayaan yang bersifat idealistik; semua fenomena eksternal sebagai pengejewantahan suatu sistem internal.

Adanya konsep kebudayaan dan konsep masyarakat berimplikasi pada kesamaran dikotomi yang tegas antara IPB dan IPS. Kebudayaan, satu sisi, adalah gambaran fenomena sosial masyarakat, tetapi di sisi lain fenomena-fenomena sosial yang terjadi pada masyarakat tidak mungkin bisa dipahami manakala tidak dikorelasikan dengan kebudayaan. Alasan inilah yang kemudian menyebabkan kedua disiplin ilmu tersebut dikenal dengan istilah human science; 'Ilmu Pengetahuan Manusiawi'. Selanjutnya, Humaniora, dibedakan dengan human science, oleh Masinambow diartikan sebagai keterampilan dan pengetahuan yang diperoleh melalui pedagogi dengan tujuan memanusiakan manusia; berbudi dan bijaksana.

Namun demikian, IPS sendiri bertujuan untuk mengkaji keteraturan yang terdapat dalam hubungan antara manusia. IPS mengkaji bagaimana manusia dalam masyarakat pada masa lalu, sekarang, dan yang akan datang. Karena itu, IPS membahas ciri kemasyarakatan yang mendasar dari manusia, misalnya lingkungan antara manusia yang satu dengan yang lainnya. Kajian kebudayaan yang meletakan struktur sosial merupakan bagian dari kebudayaan disebut dengan antropologi budaya, sedangkan kebudayaan sebagai suatu aspek dari struktur sosial disebut dengan antropologi sosial. Masinambow menggambarkan IPB dan IPS saling beririsan, sedangkan humaniora termasuk dalam IPB.

Linguistik dan Studi Bahasa

Linguistik, ilmu tentang bahasa, memiliki kedudukan yang khas menurut Masinambow. Hal ini disebabkan metodelogi yang digunakan oleh linguistik telah menginspirasi bidang ilmu yang lain, sebut saja antropologi dan sosiologi. Konsep struktur yang digunakan dalam bahasa, misalnya morfosintaksis, telah diterapkan pada karya-karya susastra dan artefak arkeologis.

Pandangan Masinambow berbeda dengan pandangan Kridalaksana yang mana menurut Kridalaksana linguistik bisa dikaji secara ideasional maupun nomoteis. Secara nomoteis artinya bahasa bersifat universal seperti kajian dalam IPA. Namun, Masinambow sanksi atas pernyataan Kridalaksana tersebut walaupun tidak dibahas lebih lanjut mengenai bahasa yang bisa dikaji dengan pendekatan nomoteis.

Beberapa Prinsip Dasar Kebudayaan

Beberapa konsep Teori idealistis yang melihat kebudayaan sebagai (1) sistem kognitif, yaitu menganggap perilaku budaya sejajar dengan gramatika bahasa; (2) sebagai sistem struktural, (3) sebagai sistem simbolis; digunakan gagasan semiotik dan interpretasi 'teks' dan (4) sistem sosial budaya; adanya rancangan (cultural competence) atas tataran normatif masyarakat, hakikatnya adalah mengacu pada apa yang telah dijabarkan oleh Sessure, Pierce, dan teori interpretasi teks.

Baca Juga : Culture as Text: Kebudayaan Sebagai Realitas dan Membentuk Realitas?

Konsep-konsep tersebut, misalnya dari Sessure, adalah mengenai (1) tanda yang dibagi menjadi penanda (signifiant) dan petanda (signifie). Penanda untuk menjelaskan bentuk atau ekspresi, sedangkan petanda untuk menjelaskan konsep dan makna. Gabungan dari keduanya disebut tanda. (2) Konsep lainnya adalah langue; konsep abstrak yang tersimpan dalam akal budi manusia yang diperoleh dari hasil produk dan konvensi masyarakat dan parole; bentuk konkret dari sebuah languae. Sebagai contoh langue, p-o-h-o-n adalah makhluk hidup yang menghasilkan oksigen dan memiliki batang dan daun sedangkan parole-nya adalah kata 'wit', atau 'tree', Konsep langue-parole ini membentuk suatu struktur budaya bahasa yang kemudian menjadi acuan bagi teori strukturalisme dalam memahami gejala sosial, budaya, dan alam.

Bagaimanakah Seharusnya Kajian Kebudayaan: Sebuah Komentar

Melihat kembali pembagian Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu Pengetahuan Budaya, kita bisa melihat secara tegas perbedaannya. IPA mencari kaidah universal, sedangkan IPB melihat keteraturan pada aspek-aspek manusia, tetapi tidak berlaku universal. Ada beberapa pandangan saya mengenai hal ini.

Faktanya kajian bahasa memang ada yang bisa diukur dengan pendekatan matematis seperti pada IPA, tetapi tidak membuktikan kaidah hukum universal. Dalam hal ini, saya sepakat dengan Masinambow dibandingkan uraian Kridalaksana. Saya ambil contoh mengenai kajian fonetik bahasa yang bisa diukur dengan melihat frekuensi, amplitudo, tekanan, dan tempo yang dihitung secara pasti menggunakan praat.

Contoh di atas adalah frekuensi dan tempo dari kalimat interogratif dalam bahasa Jepang dialek Tokyo adalah naik pada silabel terakhir yang menunjukkan bahwa kajian fonetik bisa dilakukan dengan pendekatan seperti ilmu alam. Akan tetapi, harus diakui bahwa meskipun dilakukan dengan perhitungan yang sangat terukur, tetapi tidak menghasilkan hukum universal; misalnya kalimat interogratif tidak selalu berakhir dengan intonasi naik (lebih lanjut periksa Kibe, 2012:13-16). Lalu menyoal tentang beberapa aliran yang dibahas oleh Masinambow; dari strukturalis hingga pascamodern, sejatinya masing-masing aliran tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, sehingga pendekatan dalam membedah kebudayaan tergantung konteksnya. Mata pisau mana yang lebih pas dalam mengkaji budaya tersebut; apakah cukup dengan strukturalis; atau interpretasi; atau teks; dan seterusnya? Kita sendirilah yang dituntut jeli melihat fenomena budaya tersebut sehingga secara tepat menggunakan pendekatan yang pas.

Daftar Pustaka

Masinambow, E.K.M. 2004. 'Teori Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Budaya' dalam Semiotika Budaya (Editor Christomy & Untung Yuwono). Depok: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya Universitas Indonesia

Kibe, Nobuko. 2012. 'Intonation System of the Kagoshima Dialect in Japan' dalam Proceedings FONETIK 2012, The XXVth Swedish Phonetics Conference, Mei 30–Juni 1, 2012. Gothenburg: University of Gothenburg