Apa Perbedaan Fonem dan Alofon?
Ditulis oleh Aan Setyawan Published 09/01/2018 edited 15/10/2018

Adakah sahabat di sini yang sedang belajar bahasa? Atau umumnya dikenal dengan linguistik? Ketika belajar bahasa, maka sahabat akan menemukan istilah fonem dan alofon. Lalu apa perbedaan antara fonem dan alofon? Berikut ini penjelasan perbedaan antara fonem dan alofon dari berbagai sumber buku. Dalam buku Introducing Phonology, Odden (2007:44) menyebutkan bahwa ketika ada dua kata yang hanya memiliki satu perbedaan bunyi sementara bunyi lainnya sama, maka disebut dengan pasangan minimal. Pasangan minimal digunakan untuk menguji sebuah status fonem. Perhatikan contohnya sebagai berikut:

/d/ /t/

d ire t ire

Baca Juga : Berkenalan dengan Ilmu Linguistik: Ilmu Bahasa

b end b ent

h ad h at

Perbedaan antara [t] dan [d] disebut kontrastif atau distingtif. Karena selain berbeda bunyi, keduanya juga membentuk kata dengan makna yang berbeda. Yang demikian selanjutnya disebut dengan fonem. Dalam kamus linguistik, Kridalaksana (2009:62) merumuskan bahwa yang dimaksud dengan fonem adalah satuan bunyi terkecil yang mampu menunjukkan kontras makna. Verhaar (2012:68) juga menjelaskan mengenai "fungsi pembeda" sebagai sifat khas fonem, misalnya saja pada kata rupa dan lupa. Satu-satunya perbedaan di antara kedua kata Indonesia itu ialah menyangkut bunyi pertama, [l] dan [r]. Selain bunyi pertama, semua yang ada pada dua kata tersebut adalah sama, maka pasangan [l] dan [r] disebut "pasangan minimal". Maka dari itu, /l/ dan /r/, dalam bahasa Indonesia, merupakan fonem-fonem yang berbeda identitasnya. Sebaliknya, dalam bahasa Jepang, bunyi yang secara fonetis dapat berupa [l] dapat juga berupa [r] tidak pernah membedakan dua kata dalam pasangan minimal. Maka dari itu, kedua bunyi tersebut bukan merupakan fonem-fonem yang berbeda dalam bahasa Jepang.

Fonem-fonem dalam tiap bahasa dapat ditemukan dengan pasangan minimal. Namun, ada bunyi-bunyi yang secara fonetis berbeda, tetapi tidak ditemukan pasangan minimal yang membedakan arti sehingga tidak bisa disebut fonem. Secara umum, para ahli menyebutkan bahwa bunyi yang tidak memiliki fungsi pembeda dan merupakan variasi dari fonem disebut alofon. Menurut Clark dan Yallop (2004:93) alofon adalah bunyi yang merupakan alternatif lain untuk menyebutkan fonem tertentu.Verhaar (2012:71) kemudian menyebutkan bahwa kemunculan alofon sebagai variasi dari sebuah fonem disebabkan oleh lingkungan fonem tersebut. Misalnya, pada fonem /t/ dalam bahasa Inggris yang memiliki beberapa alofon. Fonem /t/ pada awal kata, langsung disusul vokal, seperti pada kata top yang kemudian diucapkan dan diberikan lambang bunyi [th]. Bila tidak pada awal kata, seperti pada kata stop, pengucapannya adalah [t]. Dalam kata butler /t/ mempunyai plosi lateral karena setelahnya disusul dengan /l/, sehingga /t/ tidak perlu dilepaskan plosinya dengan melepaskan ujung lidah, tapi cukup dengan menurunkan sisi-sisi lidah saja.

Daftar Acuan

Alwi, Hasan, dkk. (2010). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Baca Juga : Perbedaan Ragam Formal dan Informal Bahasa Indonesia Dilihat dari Sisi Linguistik

Clark, John, dan Collin Yallop. (2004). An Introduction to Phonetics and Phonology. Oxford: Basil Blackwell Ltd.

Kridalaksana, Harimurti. (2009). Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia

Odden, David. (2007). Introducing Phonology. New York: Cambridge University Press.

Verhaar, J.W.M. (2012). Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada. University Perss.