Dimungkiri, Dipungkiri, atau Diungkiri: Manakah yang Benar?
Ditulis oleh Aan Setyawan Published 20/03/2018 edited 17/08/2018

Ketiga variasi dimungkiri, dipungkiri, atau diungkiri muncul dalam penggunaan bahasa Indonesia. Untuk mengeceknya, saya coba mencari di Google Search berikut ini:

  1. Buah Silaturahim Tidak dimungkiri bahwa silaturahim merupakan salah satu perintah Allah SWT yang menjadi pilar bagi terbentuknya masyarakat.

  2. Tidak dipungkiri bahwa kejadian terakhir-terakhir ini sangat mempengaruhi jiwa anak-anak.

  3. Banyaknya kandungan zat dalam rokok tidak diungkiri sangat berbahaya.

Bahkan kalimat nomer (3) saya temukan di harian Kompas daring. Lalu manakah sebenarnya yang benar dari ketiga kata tersebut? Jawaban yang benar adalah dimungkiri yang berasal dari kata mungkir yang berarti 'menolak'. Kata ini berasal dari bahasa Arab. Dengan demikian, bentuk turunannya adalah memungkiri, bukan mempungkiri.

Mengapa bisa muncul variasi dipungkiri dan diungkiri?

Bentuk dipungkiri atau diungkiri kemungkinan tejadi karena pemakai bahasa berasumsi bahwa memungkiri (bentuk aktif) sebenarnya berasal dari kata 'ungkir' yang mendapat imbuhan mem + i. Oleh karena itu, bentuk dasarnya adalah ungkir, sehingga bentuk pasifnya menjadi diungkiri. Kemungkinan lainnya terjadi karena pemakai bahasa menyamakan pembentukan kata seperti memukuli yang berasal dari kata dasar pukul + imbuhan me + I yang mengakibatkan bunyi p luluh. Dengan asumsi ini, maka bisa kita tengok kembali pembentukan kata memungkiri berasal dari kata me + pungkir + I dan bentuk pasifnya menjadi dipungkiri. Padahal sebenarnya leksem dasarnya memang kata mungkir yang mendapat imbuhan mem + I menjadi memungkiri dan bentuk pasifnya adalah dimungkiri. Jadi, mulai sekarang gunakan kata mungkir, bukan pungkir atau ungkir.