Shortcut
Social media
Contact information
Alamat

Jl Sharon Raya Utara No 29, Bandung - Indonesia

Email

admin@belajarbahasa.id

Telepon

+22 724 1234 567

Contoh Pantun Dari Beberapa Daerah di Indonesia

Published 17/11/2018 Last updated 04/12/2018

Pantun adalah salah satu jenis sastra budaya masyarakat nusantara. Beberapa masyarakat dikenal baik dalam memainkan pantun, seperti masyarakat Riau. Misalnya pantun di bawah ini yang mengajarkan kita dalam berhubungan antara manusia dan Tuhan dengan baik, serta nasihat agar tidak takabur dari Riau.

Lancang kuning berlayar malam

Arus deras kerang pun tajam

Kalau nakhoda kurang mufaham

Alamat kapal akan tenggelam

Berakit-rakit ke hulu

Berenang-renang ke tepian

Bersakit -sakit dahulu

Bersenang-senang kemudian

Anak gajah mandi di sumur

Ambil galah dalam perahu

Anak muda jangan tekebur

Cobaan Anah siapa tahu

Pisang mas bawa berlayar

Masak sebiji di alas peri

Hutang mas dapat dibayar

Hutang budi dibawa mati

Kalau jadi engkau ke pekan

Yu beli belanak beli

Kalau jadi engkau berjalan

Ibu cari sanak pun cari

Contoh pantun lainnya adalah dari Totoli, Sulawesi yang mengajarkan kita agar selalu berbuat baik. Berikut puisinya:

I sadang ilaeng bona

Bobo poguru pononga

Dunia kode sandona

Akhirat tolotolona

Demi daun bona

Dek belajar dan bertanyalah

Dunia hanya pinjaman

Akhirat juga yang sesungguhnya.

I sadang ilaeng malisa

Meu geiga tumadika

Baga lube pandita

Mai mangajari kita

Demi daun lombok

Biar bukan orang bangsawan

Asalkan pintar mengaji

Datanglah memberikan pengajaran kepada kami.

I sadang ilaeng agu

Apadaan pokonutu

Ana geiga tutuu

Kutulan dei nuu

Demi kayu agu

Perkataan haruslah benar

Kalau salah

Saya tunjuk mukamu .

I sadang ilaeng tabako

Mau inako-inako

Jagai dolan dako

Dolan mopido lalako .

Demi daun tembakau

Biar ke mana-mana

Ini jalan yang lurus

Jalan yang bagus dilalui .

Goukon dei buntuna

Mopido kalakuanna

Mau namoga bukuna

Kalamboti sarong lipuna.

Raja di huntuna

Bagus kelakuannya

Biar sisa tulangnya

Tapi diingat rakyatnya.

(Kangiden, 1994: 59--60)


0 Komentar

Join Discussion
You need login first to comment.