Go

Sejarah Nama Indonesia dan Bahasa Indonesia

Ditulis oleh Aan Setyawan
Dipublikasikan pada May 29th at 10:37pm
Share :

A. SEJARAH NAMA NEGARA INDONESIA

Nama Indonesia pertama kali muncul di salah satu jurnal di Singapura. Tahun 1847 di Singapura telah terbit sebuah jurnal ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA, BI: "Jurnal Kepulauan Hindia dan Asia Timur"). Dalam JIAEA volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations ("Karakteristik Terkemuka dari Bangsa-bangsa Papua, Australia dan Melayu-Polinesia") dan dalam JIAEA Volume IV , halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago ("Etnologi dari Kepulauan Hindia"). Kedua penulis menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah Indian Archipelago ("Kepulauan Hindia") terlalu panjang dan membingungkan. Logan kemudian memungut nama Indunesia. Maka lahirlah istilah Indonesia. Maka untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan (diterjemahkan ke Bahasa Indonesia):

    "Mr Earl menyarankan istilah etnografi "Indunesian", tetapi menolaknya dan mendukung "Malayunesian". Saya lebih suka istilah geografis murni "Indonesia", yang hanya sinonim yang lebih pendek untuk Pulau-pulau Hindia atau Kepulauan Hindia"

Guru besar Etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) Pada tahun 1884 menerbitkan buku yang berjudul Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel ("Indonesia atau Pulau-pulau di Kepulauan Melayu") sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara di kepulauan Indonesia pada tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah "Indonesia" di kalangan sarjana Belanda.

Masyarakat pribumi pada awalnya yang menggunakan istilah "Indonesia" adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika dibuang ke negeri Belanda tahun 1913 ia mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Persbureau. Nama Indonesisch (pelafalan Belanda untuk "Indonesia") juga diperkenalkan sebagai pengganti Indisch ("Hindia") oleh Prof Cornelis van Vollenhoven (1917). Sejalan dengan itu, inlander ("pribumi") diganti dengan Indonesiër ("orang Indonesia").

Tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia pada dasawarsa 1920-an, nama "Indonesia" yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih, sehingga nama "Indonesia" akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan. Sebagai impikasi langsung, pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu. Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging) berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.

Di Indonesia Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada tahun 1925 Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij). Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama "Indonesia". Akhirnya nama "Indonesia" dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa, dan bahasa pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini dikenal dengan sebutan Sumpah Pemuda.

Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota Volksraad (Dewan Rakyat; parlemen Hindia-Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda agar nama Indonesië diresmikan sebagai pengganti nama "Nederlandsch-Indie". Permohonan ini ditolak. Sementara itu, Kamus Poerwadarminta yang diterbitkan pada tahun yang sama mencantumkan lema nusantara sebagai bahasa Kawi untuk "kapuloan (Indonesiah)". Dengan pendudukan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama "Hindia-Belanda". Pada tanggal 17 Agustus 1945, menyusul deklarasi Proklamasi Kemerdekaan, lahirlah Republik Indonesia.

B. SEJARAH PERKEMBANGAN NAMA BAHASA INDONESIA

Perkembangan bahasa Indonesia saat ini merupakan salah satu bukti perencanaan bahasa (language planning) yang berhasil. Seperti yang kita tahu bahwa di Indonesia terdapat sekitar 746 bahasa menurut Summer Institute of Linguistics (SIL). Namun, dari demikian banyak bahasa yang digunakan pada akhirnya bahasa Indonesia dipilih sebagai bahasa resmi negara tanpa ada perpecahan dan penolakan, bahkan oleh penutur Jawa yang jumlahnya terbesar di Indonesia. Elemen perencanaan bahasa dalam suatu negara menurut Eastman (1941: 7-12) terdiri dari formulasi (merancang latar belakang pemilihan bahasa apa yang dipilih), kodifikasi (persiapan teknikal dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain), elaborasi (mempersiapkan aturan-aturan seperti aturan penulisan), dan implementasi (penerapan bahasa yang dipilih). Bahasa Indonesia telah mengalami semua proses tersebut dalam kaitanya perencanaan bahasa. Pada awalnya fungsi bahasa Indonesia adalah sebagai lingua franca di dalam domain perdagangan nusantara. Istilah bahasa Indonesia sendiri muncul pertama kali di dalam sumpah pemuda yang dideklarasikan oleh para pemuda yang terdidiri dari berbagai suku. Ketika dalam Kongres Pemuda II (28 Oktober 1928) dengan jelas dinyatakan, "menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia". Sejak saat itulah bahasa Indonesia ditetapkan dan diangkat menjadi bahasa kebangsaan.

Semenjak dideklarasikan sebagai bahasa persatauan pada tanggal 28 Oktober 1928, bahasa Indonesia pada perkembanganya sampai saat ini telah menjadi bahasa resmi dan bahasa nasional. Perkembangan ini tidak terlepas dari kebijakan pemerintah Indonesia dalam membina dan mengembangkan bahasa Indonesia. Kebijakan tentang penggunaan bahasa Indonesia telah termaktub dalam Undang-Undang Republik Indonesia, Nomor 24 Tahun 2009, Tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, Serta Lagu Kebangsaan. Undang-undang tersebut salah satunya menjelaskan dalam aspek apa saja bahasa Indonesia digunakan. Aspek-aspek tersebut misalnya adalah bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa resmi kenegaraan, pengantar pendidikan, komunikasi tingkat nasional, pengembangan kebudayaan nasional, dokumentasi niaga, serta sarana pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan bahasa media massa.

Artikel Lainnya

Likely dan unlikely
Pengertian, Ciri, dan Contoh Register dalam Bahasa
Degree of Comparison
Penulisan Partikel Pun yang Benar dalam Bahasa Indonesia
Linguistik: Aspek, Kala, dan Modalitas di dalam Bahasa
©2019 BelajarBahasa.ID
Developed by Kodelokus Cipta Aplikasi