Bagaimana Makna Leksikal dalam Sosiolinguistik?

Ditulis oleh Aan Setyawan

1. Sosiolinguistik atau sosiologi bahasa?

Sosiolinguistik adalah kajian bahasa yang berhubungan dengan masyarakat sosial. Beberapa ahli bahasa menjelaskan dengan cara yang berbeda. Namun demikian, bisa disimpulkan bahwa sosiolinguisitik mengkaji adanya relasi bahasa dengan masyarakat (bandingkan Nababan, 1992; Holmes, 2012; Wardaugh, 2015;). Istilah sosiolinguistik sendiri seperti yang dipaparkan oleh Meshtrie (2009: 4) muncul pertama kali dalam karya T.C. Hudson (1939) yang mengkaji bahasa-bahasa di India. Sejarah perkembangan sosiolingustik secara apik ditulis oleh Ervin-Tripp (1997) dalam artikelnya yang berjudul the development of sociolinguistics. Ervin-Tripp, misalnya, menjelaskan kronologi pembentukan komite sosiolinguistik yang membawahkan kajian-kajian sosiolinguistik yang telah diajukan dari tahun 1963 dengan nama Committee on Sociolinguistics of the Social Science Research Council.

Baca Juga : Berkenalan dengan Ilmu Linguistik: Ilmu Bahasa

Tidak dipungkiri jika sosiolinguistik sangat memilliki keterkaitan secara langsung dengan sosiologi. Maka tidak heran apabila J.A. Fishman yang awalnya memberi judul dalam bukunya sociolinguistics (1970) kemudian berganti judul menjadi Sociology of Language (1972) dan Ralph Fasold menulis buku dengan judul The Sociolinguistics of Society (1984) dan The Sociolinguistics of Language (1990). Hudson (1996: 4) membagi sosiolinguistik menjadi dua, yaitu micro-sociolinguistics; the study of language in relation to society dan macro-sociolinguistics; the study of society in relation to language. Mikrososiolinguistik mengkaji bahasa dalam hubungannya dengan masyakarat. Oleh karena itu, fokus pada kajian ini adalah menekankan pada struktur bahasa dan bagaimana perbedaan sosial, gender, struktur sosial mempengaruhi struktur bahasa. Makrolinguistik, di sisi lain, menekankan pada penggunaan bahasa pada masyarakat tertentu.

    Bisa kita simpulkan bahwa sosiolinguistik memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan sosiologi. Kajian yang mengkaji bahasa sebagai dasar penelitian merupakan domain sosiolinguistik. Sedangkan sosiologi bahasa adalah kajian yang meneliti struktur sosial masyarakat yang tercermin dari bahasa-bahasanya. Sosiologi bahasa merupakan penelitian ranah ilmu sosiologi.

2. Sosiolinguistik dalam hubungannya dengan cabang linguistik lainnya

Sosiolinguistik dapat melihat gejala-gejala bahasa yang ada dalam suatu masyarakat. Gejala-gejala bahasa ini tercermin dalam bentuk dan fungsi bahasa yang berbeda-beda. Kaitannya dalam fonologi, misalnya, terjadinya perubahan bunyi seperti yang dipaparkan oleh Trousdale (2010: 8) pada kata think dan butter pada masyarakat British English berikut ini:

think [θɪŋk] → think [fɪŋk]

butter [bʌt.ə r] → butter [bʌʔ.ə r]

Trousadale lebih lanjut memberi contoh pada bentuk penanda negatif dalam bahasa Inggris:

I've not written to him vs. I haven't written to him.

Pola I've digunakan oleh Inggris bagian utara, sedangkan haven't digunakan di Inggris bagian selatan.

(belum selesai)

3. Makna leksikal dalam sosiolinguistik; bergeserkah?

Hal yang menarik ketika berbicara sosiolinguistik adalah makna. Apakah makna leksikal kata mengalami pergeseran atau tetap ketika digunakan dalam berinteraksi dalam masyarakat? Jika dicermati dengan seksama, acap kali terjadi perubahan bentuk linguistik ketika suatu bahasa digunakan oleh kelompok atau kelas sosial dari masyarakat tertentu. Hal ini dapat dipengaruhi oleh siapa yang berbicara dengan siapa, topik, atau latar dari suatu pembicaraan. Variasi-variasi lingual tersebut dapat mengidentifikasikan kelas-kelas sosial tertentu atau daerah masyarakat tertentu. Masih pada contoh penggunaan bahasa Inggris pada kata think berikut ini:

think [θɪŋk] → think /fɪŋk/

Terjadi perubahan fonem /θ/ menjadi /f/ nampaknya tidak membuat makna think dalam bahasa Inggris berubah. Hal ini juga terjadi dalam bahasa Indonesia, misalnya:

  1. Halo sayang
  2. Hai cayang
  3. Hai say

Meskipun terjadi perubahan fonem /s/ menjadi /c/ atau penghilangan fonem /ʌŋ/ pada kata 'sayang', bentuk-bentuk variasi tersebut memiliki makna yang sama dengan kata 'sayang'.

Hal ini juga terjadi pada bentuk campur kode dimana penggunaan satu bahasa bercampur dengan bahasa lain.

'By the way, terima kasih ya'.

'Mohon segera dikirim as soon as possible'

Meskipun kedua bahasa diletakan di lingkungan yang tidak lazim, yaitu dengan bercampur dengan bahasa lain, makna masing-masing kata masih bertahan seperti makna dalam kamus. Dalam konteks tersebut, campur kode tidak membuat makna menjadi bergeser.

4. Alih kode & campur kode

  1. Alih kode

Alih kode adalah penggunaan satu bahasa dalam satu domain lalu beralih ke bahasa lain di domain yang berbeda atau terkadang mengubah bahasa mereka karena topik dan situasi yang berbeda, termasuk karena lawan tutur atau tingkat formalitas yang berbeda. Hal ini sejalan dengan apa yang Holmes (2001: 34) tunjukkan; orang terkadang mengganti kode dalam domain atau situasi sosial yang berbeda. Meyerhoff (2006: 118) memberikan contoh penggunaan alih kode di dalam masyarakat Honolulu, Hawai pada gambar di samping:

Dalam skema tersebut terlihat bagaimana alih kode digunakan karena faktor latar dan lawan tutur yang berbeda. Bahasa Inggris digunakan dalam domain pendidikan ketika berbicara dengan guru, sedangkan dengan penutur sesama lokal mereka menggunakan pidgin. Kasus alih kode yang menarik tersebut seringkali tidak disadari, sehingga para penutur tidak menyadari bahwa mereka telah beralih kode dalam topik tertentu. Karakteristik lain dari alih kode adalah masing-masing kode mewakili seperangkat makna sosial (Holmes, 2001: 41).

  1. Campur kode

Campur kode adalah fenomena campur dua atau lebih bahasa yang digunakan; hanya mencampur beberapa elemen seperti kata dan frasa dalam sebuah kalimat. Fasold (1984: 180) menyatakan hal yang sama, bahwa potongan satu bahasa digunakan dalam bahasa lain, termasuk kata-kata, frasa atau unit yang lebih besar. Wardhaugh (1986: 104) menambahkan, hal ini membutuhkan pengetahuan kedua bahasa tersebut sehingga orang fasih menggunakan campur kode. Di Indonesia, Nababan (1978) mengemukakan; campur kode disebut bahasa g__ado-gado untuk penggunaan bahasa campuran antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Orang terkadang, dalam percakapan, meminjam kata-kata dari bahasa lain untuk mengekspresikan konsep atau menggambarkan objek yang tidak ada kata yang jelas yang tersedia dalam bahasa yang mereka gunakan.

  1. Variasi internal bahasa

Variasi internal bahasa adalah penggunaan satu variasi dalam satu bahasa. Tujuan dari pilihan bahasa ini adalah untuk menunjukkan status solidaritas di antara orang-orang dengan lawan bicaranya. Kita tahu dalam bahasa Jawa ada tiga tingkatan bahasa yang seperti Purwadi (2005) jelaskan, yaitu krama, 'tinggi', madya 'tengah', dan ngoko, 'rendah'. Krama digunakan untuk menghormati orang dan ngoko digunakan untuk sesama.

5. Pergeseran bahasa dan impilaksinya pada makna

Seperti halnya sebuah kendaraan, bahasa juga bisa mengalami pergeseran. Satu bahasa bisa diganti oleh bahasa lain. Pergeseran ini terjadi lantaran penutur jati lebih memilih bahasa lain yang dianggap lebih superior. Pergeseran bahasa terjadi lebih karena faktor non-ekstralinguistik seperti faktor ekonomi, politik, dan yang lainnya.

Ayam goreng vs. fried chicken

Kopi hitam vs. black coffee

Es jeruk vs orange juice

Pada dasarnya ayam goreng dan fried chicken memiliki semantic properties yang sama. Begitu pula kopi hitam dan black coffee memiliki ciri-ciri semantik yang sama. Akan tetapi, penggunaan bahasa berbeda tersebut berimplikasi pada factor non linguistic, seperti harga yang lebih mahal dan status sosial yang terlihat lebih tinggi.

Kesimpulan

Sosiolinguistik mengkaji hubungan antara bahasa dan masyarakat. Variasi-variasi bahasa yang digunakan dalam masyarakat menunjukkan adanya karakteristik dan kelas-kelas sosial yang berbeda. Pada dasarnya penggunaan bahasa dalam interaksi masyarakat sosial tidak terlepas dari makna bahasa yang terdapat dalam semantik, begitu pula dalam prinsip-prinsip pragmatik.

Daftar pustaka

Bloomfield, Leonard. 1973. Language. London: Compton printing Ltd

Coulmas, F. 1997. The Handbook of Sociolinguistics. USA: Blackwell Publishing.

Baca Juga : Perbedaan Ragam Formal dan Informal Bahasa Indonesia Dilihat dari Sisi Linguistik

Fasold, Ralph. 1984 The Sociolinguistics of Society. Oxford: Basil Blackwell.

________. 1990. The Sociolinguistics of Language. Oxford: Basil Blackwell.

Fishman, Joshua A. 1972. The Sociology of Language. Rowley: Newbury Hous

Holmes, Janet. 2013. (Fourth edition) An Introduction to Sociolinguistics. New York: Longman.

Hudson, R.A. 1996_._ Sociolinguistics (Second Edition). Cambridge: Cambridge University Press.

Meshtrie, Rajend, dkk. 2009. Introducing sociolinguistics (second edition). Edinburg: Edinburgh University Press

Meyerhoff, Miriam. 2006. Introducing Sociolinguistics. New York: Routledge

Kartomihardjo, Soeseno. 1988. Bahasa Cermin Kehidupan Masyarakat. Jakarta: Depdikbud.

Nababan, P.W.J. 1993. Sosiolinguistik: Suatu Pengantar. Jakarta: PT Gramedia.

Newmeyer, F. J. 1988. Language the Socio Cultural Context. New York: Cambridge University Press.

Palmer, Gary B. 1996. Toward a Theory of Cultural Linguistics. Austin : University of Texas Press.

Saville-Troike, Muriel. 1982. The Ethnography of Communication. Oxford: Basil Blackwell Publisher. Penguin Books.

Trudgill, Peter. 1974. Sociolinguistics: An Introduction. England: Penguin Books.

University of California & Under the Auspices of the Center for Research in Languages and Linguistics. 1966. Sociolinguistics Proceedings of the UCLA Sociolinguistics Conference 1964. Los Angeles: Mouton & CO the Hague.

Wardhaugh, Ronald & Janet, M. Fuller. 2015. An Introduction to Sociolinguistics. Oxford: Basil Blackwell.