Shortcut
Social media
Contact information
Alamat

Jl Sharon Raya Utara No 29, Bandung - Indonesia

Email

admin@belajarbahasa.id

Telepon

+22 724 1234 567

Dari Mana Asal Usul Proto Austronesia di Mana Bahasa Indonesia ada Di Dalamnya?

Published 30/10/2017 Last updated 11/12/2017

Persoalan mengenai tanah asal bahasa melayu-polynesia (atau, yang kemudian di sebut Austronesia) muncul pada permulaan abad ke Sembilan belas. Marsden berpendapat bahwa penduduk kepulauan Pasifik berasal dari Asia (dari wilayah Tartar). Hanya penduduk dibagian barat kepulauan pasifik yang ia maksudkan tentu Melanesia kemungkinan besar berasal dari irian. Tonggak pegangan Marsden lebih condong pada pertimbangan terhadap kesukubangsaan dari pada fakta kebahasaan.

Yang sangat penting bagi teori tanah asal suatu rumpun bahasa adalah kemungkinan hubungan kekerabatan antara kelompok bahasa yang satu dengan yang lainnya. Bopp sia-sia untuk membuktikan hubungan antara bahasa austronesia dan bahasa indo-eropa, dan juga teori MacDonald bahwa bahasa austronesia berasal dari bahasa Semit. Gagasan Wilhelm Schmidt umurnya lebih panjang yang mencanangkan adanya hubungan diantara sejumlah bahasa dibagian tenggara benua Asia, yang menurut pendapatnya membentuk suatu kelompok yang ia sebut Austro-Asia disatu pihak dan bahasa Austronesia dilain pihak,kedua bahasa ini ia beri nama Austrik. Gagasan Schmidt bertentangan dengan pandangan Kuhn. Kuhn tidak hanya memisahkan bahasa Austronesia (Malaya) di Asia Tenggara. Ia memandang unsur-unsur yang sama dan butir-butir yang sama lainnya lagi yang ia temukan dalam rumpun bahasa lain sebagai sesuatu yang barang kali disebabkan oleh substrata lama.

Bahasa lain yang dikemukakan berkerabat dengan bahasa Austronesia adalah bahasa Jepang yang diutarakan oleh sarjana Rusia, Palivanov dan kemudian oleh seorang Belanda, Van Hinloopen Labberton. Teori Laberton banyak berlandaskan pada teori 'akar' bahasa Austronesia dan pada asumsi terdapat banyak pergeseran bunyi. Matsumoto dan Schmidt tidak menyangkal bahwa bahasa jepang dan Austronesia memiliki beberapa kesamaan dalam kosa kata, tetapi menjelaskan kesamaan itu sebagai akibat pengaruh bahasa Austronesia terhadap bahasa jepang. Kesimpulan bahwa pengaruh bahasa Austronesia didalam kosa kata bahasa jepang pasti lebih dahulu terjadi dari pada pengaruh bahasa altaik yang diketengahkan oleh Schmidt yang berlandaskan pada kenyataan bahwa diantara kata-kata yang berasal dari bahasa Austronesia lebih bayak yang tergolong sebagai kosa kata dasar.

Wolff mencanangkan bahwa bahasa Austronesia harus dikaitkan dengan rumpun bahasa Indo-Cina. Dengan pandangan kemungkinan pengaruh bahasa, bukanya hubungan kekerabatan yand didesakkan oleh R.A Kern. Pandangan berbeda diketengahkan oleh Paul Benedict, yang percaya bahwa bahasa Austronesia memiliki hubungan kekerabatan dengan dua kelompok bahasa berikut; dengan sekelompok bahasa yang dituturkan di wilayah perbatasan Vietnam-Cina (bahasa itu ia namai bahasa Kadai), dan dengan rumpun bahasa Thai, yang menurut pendapatnya harus dipisahkan dari rumpun bahasa Sino-Tibet, sebab kemiripan antara bahasa Thai dan bahasa Cina adalah karena pengaruh bahasa,bukan karena kesamaan asal bahasa.

Bukan hanya lewat bukti kekerabatan atau bukti pengaruh bahasa memecahkan persoalan tanah asal bahasa, tetapi juga melalui pengetahuan yang diperoleh lewat perbandingan bahasa-bahasa yang dituturkan. Metode yang dipakai sarjana belanda hendrik kern pada tahun 1889 ialah pemilihan kosa kata yang disepakati sebagai bentuk Austronesia purba dengan mengambil kata-kata yang maknanya berkenaan dengan flora, fauna dan unsur-unsur lain yang berkaitan dengan llingkungan geografis. Seperti dalam tumbuh-tumbuhan; tebu, bambu, kelapa, mentimun, pandan, kayu manis,limau keladi, tetapi dia kurang yakin pada rotan.

Diantara nama binatang yang ditemukan oleh kern sebagai kata yang asli Austronesia; lalat, kutu, nyamuk, laba-laba, tikus, anjing, dan babi. Yang memberikan petunjuk mengenai ditempat mana tanah asal bahasa Austronesia adalah kata-kata untuk ikan hiu, ika sotong, udang laut, ikan pari, dan kura-kura. Hanya satu kata untuk besi yang ditemukan, tetapi pemakainnya terbatas pada Austronesia barat.

Kern menyimpulkan bahwa tanah asal bahasa Austronesia pasti dikawasan pantai didaerah tropika, dan tidak mengesampingkan disisi dimur wilayah Austronesia, tetapi ia punya alasan untuk berpaling kebarat karena ditemukan didalam budaya padi yang tersebar dari india ke timur. Bahasa Tibet memiliki kata untuk padi, yakni bras. Kern berpendapat bahwa bahasa Tibet tentu meminjam kata ini dari bahasa Austronesia pada saat kedua penutur ini menjalin hubungan, mungkin disuatu tempat di Asia Tenggara. Itu sebabnya ia menduga bahwa tanah asal bahasa Austronesia ditenggara benua asia atau di Indonesia barat, dan kemungkinan paling utara adalah Cina selatan dengan garis balik utara sebagai batas.

Kern mengemukakan bahwa banyak bahasa-bahas yang memiliki kata untuk selatan yang berarti 'daerah selat', yang dimaksudkan terletak didaerah utara selat malaka, yang pada mulanya kata itu mungkin muncul di Kalimantan. Tetapi hal ini meragukan, kemungkinan Vietnam sebagai tanah asal bahasa Austronesia juga menjelaskan kenyataan bahwa di dalam bahasa bukan Austronesia di asia tenggara ditemukan lebih banyak kata pinjaman dari bahasa Austronesia dari pada yang diharapkan dari bahasa Austronesia yang kini dituturkan di wilayah Vietnam.

Haudricourt, seorang sarjana perancis menyajikan penjelasan tentang dua hal; pertama, bahasa Austronesia diwilayah Vietnam, atas dasar perkembangan beberapa konsonan, paling baik dikelompokan kedalam bahasa-bahasa Nusantara Selatan. Kedua, Data sejarah dan data sosiologi memperlihatkan adanya migrasi bahasa Austronesia belum lama ini ke Indo-China. Adanya keadaan bahasa yang sama di Semenanjung Malaya. Kemiripan beberapa numeralia (2, 5, dan 6) yang terdapat pada bahasa Cina Selatan, Tonkin Utara, dan Hainan dengan kata-kata yang sepadan didalam bahasa Austronesia, dan justu tidak ditemukan dalam bahasa Austro-Asiatik (seperti bahasa Mon, Khmer,dsb). Menurut pendapat Haudricourt, tanah asal bahasa Austronesia pastilah terletak di Cina Selatan, diantara Hainan dan Taiwan.

Hubungan erat antara bahasa Cham dan bahasa-bahasa Nusantara, terutama bahasa Aceh. Cowan sependapat dengan Haudricourt bahwa bahasa Cham termasuk rumpun bahasa Austronesia, tetapi ia menolak pandangan bahwa bahasa Cham dan bahasa Aceh – dua bahasa yang memiliki banyak kesamaan- apabila dilihat kosa kata dan perkembangan bunyinya, menunjukkan bahwa kedua bahasa itu berhubungan dengan bahasa-bahasa Mon-Khmer selama kurun waktu yang panjang. Ini hanya dapat dijelaskan dengan migrasi orang Aceh dari Indo-Cina ke Sumatra, dan bukan dengan migrasi dari Cham ke Indo-Cina. Menurut Cowan, bahasa Aceh merupakan benteng terakhir dari arus perpindahan penutur bahasa Austronesia dari Indo-Cina ke Timur dan Tenggara yang berlangsung lama.

Isidore Dyen seorang sarjana yang sangat menguasai linguistic umum dan secara dalam mengakrabi persoalan linguistic komparatif Austronesia pendekatannya berlandaskan pada metode kuantitatif, yang dikenal dengan leksikostatistik, metode ini berupa pembandingan bahasa yang berbeda, dengan pengamatan pada sebagian dari daftar kosa katanya yang dianggap dasar, yaitu yang tidak secara langung terkait pada budaya atau lingkungan eksternal. Leksikostatistic telah dilakukan oleh sarjana lai di bidang Austronesia seperti Elbert dan Grace, tetapi Dyen menerapkannya secara lebih luas dengan memanfaatkan gagasan kosa kata dasar untuk memperbaiki pandangan dempwoff terhadap strata ujaran "tua" di dalam bahasa Ngaju Dayak dam memeriksa pembandingan yang dilakukan oleh Dahl terhadap bahasa Malagasi dan Maanjan dengan metode leksikostatistik temuannya sendiri.

Edward sapir mengatakan bahwa dengan mengamati suatu daerah tempat terdapatnya bahasa –bahasa serumpun dan disitu ditelusuri dimanakah keanekanragaman bahasa itu terjadi sangat tinggi. Ia menyatakan bahwa tempat dan keanekaragaman bahasa yang banyaka itulah tempat yang kemungkinan besar merupakan titik asal persebaran bahasa.

Dengan membandingkan berbagai hasil data leksikostatistiknya, dyen menyingkapkan bahwa rumpun-rumpun bahasa utama (yaitu, rumpun bahasa atau bahasa yang memperlihatkan persentase kekerabatan yang rendah dibandingkan dengan rumpun bahasa atau bahasa lain) agak jarang disebelah barat: di Formosa (rumpun Atayalik dan Tsou) dan pulau-pulau disebelah Barat Sumatra (bahasa Mentawai dan Enggano). Akan tetapi ,sejumlah besar rumpun bahasa utama di temukan diwilayah Melanesia-irian: di Keledonia Baru, Hibrida Baru, Kepulauan Salomon, Britania Baru, Irian Timur (seluruhnya sekitar 30 bahasa). Beberapa tumpun bahasa utama lainnya terdapat di Irian Jaya, Yap, dan Nauru. Dyen menyimpulkan bahwa tanah asal tempat persebaran bahasa Austronesia haruslah terdapat dikawasan Melanesia, dengan Hibrida Baru dan Britania sebagai kemungkinan lain. Kemungkinan lainnya tetapi lebih tipis adalah Irian Jaya dan Taiwan.

Gambaran umum tentang migrasi bangsa Austronesia yang disimpulkan oleh Dyen meliputi migrasi awal ke Enggano dan mentawai dan juga ke Formosa. Yang ke Formosa ini mungkina berasal dari kepulauan Filipina pada saat pulau itu belum padat penduduknya. Bahasa-bahasa Maluku datang dari Irian Jaya, Tetapi bahasa-bahasa di pulau-pulau besar Indonesia dan Filipina berasal dari pulau dan /atau Guam. tanah asal rumpun bahasa Polynesia adalah wilayah Hibrida Baru dan Kepulauan Salomon. Setelah perpindahan ke Timur dan Nukuoro-Kapingamarangi. Kemudian, penduduk yang terpencil itu berpindah kembali kebarat dan ke Maori, terpisah dari kelompok Timur. Di Mikronesia migrasi mengikuti arah garis Timur-Barat.

Teori Benedict memerlukan bukti lebih lanjut dan apabila bukti itu dapat ditemukan, barangkali formosalah tempat yang lebih tepat sebagai tanah asal bahasa Austronesia. Iini berarti bahwa wilayah Melanesia merupakan pusat penyebaran sekunder.

Dari keseluruhan pemaparan diatas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

  1. Sejarah perpindahan penutur bahasa Austronesia agak berliku-liku.
  2. Linguistic mengemban tugas maha berat untuk menjelaskan hubungan antarbahasa yang saling berkerabat, untuk menganalisis keadaan internal didalam pelbagai bahasa, dan untuk menemukan metode baru untuk menarik kesimpulan historis dari penemuan linguistic.
  3. Masalah migrasi dan tanah asal tidak bisa ditangani oleh ahli bahasa saja. Sejarah budaya, prasejarah, antropologi, dan sebagainya harus sama-sama terlibat dan dapt memberikan sumbangan yang penting, bahkan yang paling penting.

0 Komentar

Join Discussion
You need login first to comment.