Mengkaji Budaya Melalui Linguistik Antropologi

Ditulis oleh Aan Setyawan

PENGERTIAN LINGUISTIK ANTROPOLOGIS

Beberapa istilah:

  1. Linguistik Antropologis (Anthropological Linguistics)
  2. Antropologi Linguistis (Linguistic Anthropology)
  3. Etnolinguistik (Ethnolinguistics)
  4. Etnosemantik (Ethnosemantics)

Menurut Foley (2001:3--5) linguistik antropologisadalah cabang linguistik yang mempelajari bahasa dalam konteks sosial dan budaya yang lebih luas. Linguistik antropologis mencoba untuk mencari makna tersembunyi yang ada di balik pemakaian bahasa, pemakaian bentuk-bentuk bahasa yang berbeda, pemakaian register, dan gaya. Linguistik antropologis merupakan disiplin interpretif (interpretive discipline) yang mengupas bahasa untuk mendapatkan pemahaman budaya.

Istilah linguistik antropologis dan antropologi linguistis sering dipertukarkan pemakaiannya. Meskipun demikian, pengertian kedua istilah ini dapat dibedakan. Jika linguistik antropologis merupakan cabang dari linguistik, antropologi linguistis merupakan cabang dari antropologi.

Baca Juga : Berkenalan dengan Ilmu Linguistik: Ilmu Bahasa

Hymes (1964:xxiii) mendefinisikan antropologi linguistis sebagai studi bahasa dalam konteks antropologi. Duranti (1997:2-3) mengatakan bahwa antropologi linguistis adalah the study of language as a cultural resource and speaking as a cultural practice. Sebagai sebuah ilmu interdisipliner, antropologi linguistis memakai dan mengembangkan metode yang terdapat pada ilmu lain terutama metode-metode yang terdapat dalam antropologi dan linguistik.

Perbedaan antara linguistik antropologis dan antropologi linguistis tampak pada cara kerja kedua disiplin ilmu ini. Studi linguistik antropologis bermula dari fakta kebahasaan. Data dalam studi linguistik antropologis adalah bahasa yang dapat berupa kosa kata, frase, struktur kalimat, bentuk-bentuk kalimat, register, perilaku berbahasa, dan sejenisnya. Berdasarkan data yang berupa bahasa ini, dengan menggunakan metode tertentu, lalu ditafsirkan aspek antropologis atau budaya yang berada di baliknya.

Sebaliknya, antropologi linguistis tidak bermula dari fakta kebahasaan, melainkan dari fakta kebudayaan. Data dalam studi antropologi linguistis berupa fenomena-fenomena budaya yang teramati dalam bahasa.

Sesuai dengan makna kata yang membentuknya yaitu ethnos yang berarti suku bangsa dan linguistics yang berarti ilmu bahasa, etnolinguistik dapat diartikan sebagai studi bahasa pada suku bangsa tertentu yang biasanya belum mengenal tulisan.Akan tetapi, pengertian ini kemudian meluas karena studi etnolinguistik tidak saja dilakukan pada bahasa suku bangsa yang belum mengenal tulisan, namun juga dilakukan pada bahasa suku bangsa yang sudah mengenal tulisan. Studi etnolinguistik pada bahasa suku bangsa yang sudah mengenal tulisan memusatkan perhatian pada hubungan antara bahasa dengan budaya suku bangsa tersebut.

Karena etnolinguistik mempelajari bahasa suku bangsa tertentu dalam kaitannya dengan budayanya, studi etnolinguistik sering pula disamakan dengan linguistik antropologis (Kridalaksana, 2001:52).

Etnosemantik, sering pula disebut etnosains(ethnoscience), adalah studi mengenai cara-cara yang dipakai oleh suatu masyarakat dalam kebudayaan yang berbeda dalam mengorganisasikan dan mengkategorisasikan ranah-ranah pengetahuan tertentu seperti ranah tumbuh-tumbuhan, binatang, dan kekerabatan (Palmer, 1999:19).Etnosemantik bertujuan untuk mencari prinsip-prinsip pengorganisasian yang mendasari perilaku (the organizing principles underlying behavior). Studi etnosemantik terutama dipusatkan pada pendeskripsian sistem klasifikasi yang ada dalam kebudayaan tertentu dan penganalisisan fitur-fitur atomistis makna leksikon dalam ranah semantik tertentu melalui analisis komponen makna.

Artikel ini merupakan tulisan dari DR. Suhandono sebagai pengantar Linguistik Antropologi S2 Linguistik UGM.