Jenis-Jenis Peribahasa Beserta Contoh dan Artinya
Ditulis oleh Aan Setyawan Published 31/05/2017 edited 21/10/2017

A. Pengertian peribahasa

Peribahasa adalah ungkapan atau kalimat ringkas padat, berisi perbandingan, perumpamaan, nasihat, prinsip hidup atau aturan tingkah laku. Bentuk peribahasa adalah tetap. Artinya adalah susunan katanya tidak berubah ataupun disisipi dengan kata lain.

"Sepandai-pandai tupai melompat, sekali waktu jatuh juga."

Artinya sepandai-pandainya manusia, suatu saat pasti pernah melakukan kesalahan juga.

Kita tidak bisa menyisipinya, misalnya dengan:

"Sepandai-pandai tupai melompat dan memanjat tinggi-tinggi, sekali-kali waktu jatuh juga nantinya."

B. Jenis-jenis peribahasa

Setidaknya ada 6 jenis peribahasa dalam bahasa Indonesia, yaitu: bidal/pameo, pepatah, perumpamaan, ungkapan, tamsil, dan semboyan. Untuk lebih jelasnya simak penjelasan lebih lengkan di bawah ini:

1. Bidal

Peribahasa ini berisi ungkapan yang mengandung peringatan, sindiran, dan atau ejekan. Contoh bidal adalah:

Hidup segan mati tak mau

Malu bertanya sesat dijalan

2. Pepatah

Pepatah adalah jenis peribahasa yang mengandung nasehat yang berasal dari orang tua. Contoh pepatah:

Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit

Berakit-rakit kita ke hulu, berenang kita kemudian

3. Perumpamaan

Perumpamaan adalah jenis peribahasa yang membandingkan manusia dengan alam sekitar. Contoh perumpamaan:

Bagai pinang dibelah dua

Bagai bumi dan langit

4. Ungkapan

Ungkapan adalah jenis peribahasa yang menggambarkan kelakuan seseorang atau keadaan alam dengan beberapa patah kata dimana makna ungkapan tersebut tidak bisa diartikan satu persatu dari kata yang membentuknya. Contoh ungkapan adalah:

Kabar angin

Besar kepala

Panjang tangan

5. Pameo

Pameo adalah peribahasa yang berisi semboyan. Fungsi dari pameo adalah mengobarkan suasana.

Contoh pameo:

Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh

C. Contoh peribahasa

Peribahasa-peribahasa di bawah ini merupakan sebagian kecil dari ribuan peribahasa di Indonesia. Berikut ini peribahasa-peribahasa yang sering muncul digunakan dalam soal-soal bahasa Indonesia yang kami sadur dari laman Badan Bahasa Kemendikbud.

Peribahasa

"Kalau tiada senapang, baik berjalan lapang."

Artinya jika tidak bersenjata atau tidak bertenaga, sebaiknya mengalah.

Peribahasa

"Untung bagaikan roda pedati, sekali ke bawah sekali ke atas."

Artinya keberuntungan atau nasib manusia tiada tetap, kadang di bawah dan kadang di atas.

Peribahasa

"Makan hati berulam rasa."

Artinya menderita karena perbuatan orang yang kita sayang.

Peribahasa

"Menanti-nanti bagaikan bersuamikan raja."

Artinya menantikan bantuan dari orang yang tidak dapat memberikan bantuan.

Peribahasa

"Lemak manis jangan ditelan, pahit jangan dimuntahkan."

Artinya perundingan yang baik jangan disia-siakan, tetapi hendaknya dipikirkan secara mendalam.

Peribahasa

"Menghela lembu dengan tali, menghela manusia dengan kata."

Artinya segala pekerjaan harus dilakukan menurut tata cara aturannya masing-masing.

Peribahasa

"Terlalu aru berpelanting, kurang aru berpelanting."

Artinya segala sesuatu yang berlebihan atau kurang akan berakibat kurang baik.

Peribahasa

"Di mana kayu bengkok, di sana musang mengintai."

Artinya orang yang sedang lengah mudah dimanfaatkan oleh musuhnya.

Peribahasa

"Sehari selembar benar, setahun selembar kain."

Artinya suatu pekerjaan yang dilakukan dengan keyakinan dan kesabaran akan membuahkan hasil yang baik.

Peribahasa

"Jangan disesar gunung berlari, hilang kabut tampaklah dia."

Artinya hal yang sudah pasti, kerjakanlah dengan sabar tidak perlu tergesa-gesa.

Peribahasa

"Sekali jalan terkena, dua kali jalan tahu, tiga kali jalan jera."

Artinya bagaimanapun bodohnya seseorang, jika sekali tertipu, tak akan mau tertipu lagi untuk kedua kalinya.

Peribahasa

"Hawa pantang kerendahan, nafsu pantang kekurangan."

Artinya hawa nafsu tidak boleh diremehkan harus dijaga sebaik-baiknya.

Peribahasa

"Enak makan dikunyah, enak kata diperkatakan."

Artinya sesuatu hal haruslah dimusyawarahkan terlebih dahulu.

Peribahasa

"Orang mau seribu daya, bukan seribu dali."

Artinya jika menghendaki sesuatu, pasti akan mendapatkan jalan, jika tidak menghendaki, pasti mencari alasan.

Peribahasa

"Cuaca di langit pertanda akan panas, gabak di hulu tanda akan hujan."

Artinya sesuatu pasti akan ada identitas atau tanda khususnya.

Peribahasa

"Alang berjawab, tepuk berbatas."

Artinya perbuatan baik dibalas dengan perbuatan baik, perbuatan jahat dibalas dengan perbuatan kejahatan pula.

Peribahasa

"Hancur badan di kandung tanah, budi baik dikenang jua."

Artinya budi pekerti, amal kebaikan, akan selalu dikenang meski seseorang sudah meninggal dunia.

Peribahasa

"Bagaikan api makan ilalang kering, tiada dapat dipadamkan lagi."

Artinya orang yang tidak mampu menolak bahaya yang menimpanya.

Peribahasa

"Tertangguk pada ikan sama menguntungkan, tertanggung pada rangsang sama mengiraikan."

Artinya suka dan duka dijalani bersama. Keuntungan yang didapatkan dinikmati bersama-sama, kesusahan yang dialami diatasi bersama-sama juga.

Peribahasa

"Ditindih yang berat, dililit yang panjang."

Artinya kemalangan yang datang tanpa bisa dihindari.

Peribahasa

"Kalau dipanggil dia menyahut, kalau dilihat dia bersua."

Artinya bisa menyampaikan maksud dengan cara yang tepat.

Peribahasa

"Seludang menolak mayang."

Artinya sebutan untuk orang sombong dan melupakan orang lain yang telah berjasa dalam hidupnya.

Peribahasa

"Tolak tangan berayun kaki, peluk tubuh mengajar diri."

Artinya belajar untuk mengendalikan diri dan meninggalkan kebiasaan bersenang-senang.

Peribahasa

"Lubuk akal tepian ilmu."

Artinya seseorang yang dikenal memiliki banyak ilmu pengetahuan.

Peribahasa

"Putih kapas dapat dibuat, putih hati berkeadaan."

Artinya kebaikan hati yang bisa dilihat dari tingkah lakunya.

Peribahasa

"Pandai berminyak air."

Artinya pandai menyusun kata-kata untuk mencapai maksudnya.

Peribahasa

"Karena mata buta, karena hati mati."

Artinya menjadi celaka karena terlalu menuruti hawa nafsunya.

Peribahasa

"Sedap jangan ditelan, pahit jangan segera dimuntahkan."

Artinya berpikir baik-baik sebelum bertindak agar tidak kecewa.

Peribahasa

"Ada harga ada rupa."

Artinya harga suatu barang tentu disesuaikan dengan keadaan barang tersebut.

Peribahasa

"Lain di bibir lain di hati."

Artinya perkataan yang tidak sesuai dengan kata hatinya, tidak jujur.

Peribahasa

"Seberat-berat mata memandang, berat juga bahu memikul."

Artinya seberat apapun penderitaan orang yang melihat, masih lebih menderita orang yang mengalaminya.

Peribahasa

"Jauh di mata dekat di hati."

Artinya dua orang yang tetap merasa dekat meski tinggal berjauhan.

Peribahasa

"Barangsiapa menggali lubang, ia juga terperosok ke dalamnya."

Artinya bermaksud mencelakakan orang lain, tetapi dirinya juga ikut terkena celaka.

Peribahasa

"Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih."

Artinya segala sesuatu dalam kehidupan bukan manusia yang menentukan.

Peribahasa

"Sakit sama mengaduh, luka sama mengeluh."

Artinya seia sekata dalam semua keadaan.

Peribahasa

"Terbuat dari emas sekalipun, sangkar tetap sangkar juga."

Artinya meskipun hidup dalam kemewahan tetapi terkekang, hati tetap merasa tersiksa juga.

Peribahasa

"Bagaikan burung di dalam sangkar."

Artinya seseorang yang merasa hidupnya dikekang.

Peribahasa

"Karena nila setitik, rusak susu sebelanga."

Artinya karena kesalahan kecil, menghilangkan semua kebaikan yang telah diperbuat.

Peribahasa

"Tong penuh tidak berguncang, tong setengah yang berguncang."

Artinya orang yang berilmu tidak akan banyak bicara, tetapi orang bodoh biasanya banyak bicara seolah-olah tahu banyak hal.

Peribahasa

"Tong kosong nyaring bunyinya."

Artinya orang sombong dan banyak bicara biasanya tidak berilmu.

Peribahasa

"Sepandai-pandai tupai melompat, sekali waktu jatuh juga."

Artinya sepandai-pandainya manusia, suatu saat pasti pernah melakukan kesalahan juga.

Peribahasa

"Berguru kepalang ajar, bagai bunga kembang tak jadi."

Artinya Menuntut ilmu hendaknya sepenuh hati dan tidak tanggung-tanggung agar mencapai hasil yang baik.

Peribahasa

"Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga."

Artinya sifat anak biasanya menurun dari sifat orangtuanya.

Peribahasa

"Air tenang menghanyutkan."

Artinya orang yang kelihatannya pendiam, namun ternyata banyak menyimpan ilmu pengetahuan dalam pikirannya.

Peribahasa

"Air beriak tanda tak dalam."

Artinya orang yang banyak bicara biasanya tak banyak ilmunya.

Peribahasa

"Membagi sama adil, memotong sama panjang."

Artinya jika membagi maupun memutuskan sesuatu hendaknya harus adil dan tidak berat sebelah.

Peribahasa

"Ada Padang ada belalang, ada air ada pula ikan."

Artinya di mana pun berada pasti akan tersedia rezeki buat kita.

Peribahasa

"Bagaikan abu di atas tanggul."

Artinya orang yang sedang berada pada kedudukan yang sulit dan mudah jatuh.

Peribahasa

"Menang jadi arang, kalah jadi abu."

Artinya kalah ataupun menang sama-sama menderita.

Peribahasa

"Bagai Makan Buah Simalakama."

Artinya bagai seseorang yang dihadapkan pada dua pilihan yang sangat sulit untuk dipilih.

Peribahasa

"Bagai pungguk merindukan bulan."

Artinya seseorang yang membayangkan atau menghayalkan sesuatu yang tidak mungkin.

Peribahasa

"Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama."

Artinya setiap orang yang sudah meninggal pasti akan dikenang sesuai dengan perbuatannya di dunia.

Peribahasa

"Besar pasak daripada tiang".

Artinya lebih besar pengeluaran daripada pendapatan. bisa dibilang orang yang tidak bisa mengatur keuangan.

Peribahasa

"Berguru kepalang ajar, bagai bunga kembang tak jadi".

Artinya menuntut ilmu hendaknya sepenuh hati dan tidak tanggung-tanggung agar mencapai hasil yang baik.