Go

Semua Bahasa adalah Sama: Sama Baiknya!

Ditulis oleh Aan Setyawan
Dipublikasikan pada April 8th at 4:34am
Share :

Setiap bahasa adalah sama kedudukanya dalam linguistik. Artinya adalah tidak ada bahasa yang lebih unggul dari perspektif linguistik. Jika ada pandangan bahasa tertentu lebih unggul sebenarnya pandangan keunggulan tersebut karena dipengaruhi fakor non linguistik seperti karena politik, kebudayaan yang sedang menguat, ekonomi yang menguat, dan lain sebagainya. Kita bisa mengetahui bagaimana perkembangan budaya Korea melalui lagu dan boyband-nya yang juga berimplikasi kepada bahasa Korea yang dianggap tinggi dan kemudian beamairamai orang mempelajari bahasa Korea (hanguel). Dalam teori relativitas bahasa dijelaskan bahwa bahasa cukup bagi penggunanya. Artinya adalah pemakai bahasa cukup dengan leksikon-leksikon yang mereka butuhkan dalam menjalani kehidupanya. Penjelasan-penjelasan bahwa bahasa di dunia dalam perspektif linguistic sama baiknya adalah karena alasan berikut ini:

1) Setiap bahasa memiliki sistem fonologi yang unik dan berbeda-beda

Hal ini tidak bisa diklaim bahwa bahasa tertentu memiliki sistem fonologi yang terbaik. Bahasa Arab tidak memiliki bunyi [f], bahasa Sunda tidak memiliki [f], dan bahasa-bahasa tertentu di nusantara tidak memiliki bunyi []. Namun ketidakberadaanya bunyi-bunyi tersebut apakah kemudian menyimpulkan bahasa tersebut tidak baik? Dalam sebuah bahasa memungkinkan satu bahasa tidak memiliki bunyi tertentu namun memiliki bunyi yang lainya yang tidak dimiliki oleh bahasa lain. Contohnya adalah beberapa bahasa seperti bahasa Arab memiliki bunyi-bunyi belakang (uvular, faringal), sedangkan dalam bahasa Indonesia tidak memiliki bunyi tersebut. Jika dikembalikan dengan teori relativitas bahasa maka kita akan mengerti bahwa pemakai bahasa pada bahasa tersebut merasa cukup dengan bunyi-bunyi yang dimilikinya. Saya mengambil penganalogian seperti orang yang hidup di gurun pasir tidak terlalu penting memiliki pengetahuan jenisjenis nama salju karena memang tidak ia temukan dalam kehidupan keseharianya. Oleh karena itu bunyi bahasa juga seperti itu, setiap bunyi cukup bagi penggunanya dalam berkehidupan sehari-hari.

2) Setiap bahasa memiliki sitem Morfologi yang berbeda

Setiap bahasa memiliki sitem morfologi sendiri-sendiri. Oleh karena itu, meskipun suatu bahasa termasuk dalam satu rumpun atau satu proto dengan bahasa lainya, mereka tetap memiliki sistem morfologi yang berbeda. Kita mengambil contoh misalnya dalam bahasa Melayu dialek Indonesia (bahasa Indonesia) memiliki sistem morfologi yang berbeda dengan bahasa Jawa meskipun kedua bahasa tersebut termasuk dalam keluarga bahasa Austranesia atau yang lebih kecil lagi keluarga bahasa Melayu Polinesia. Setiap bahasa memiliki cara tersendiri dalam pembentukan kata (word formation), contoh: Bahasa Indonesia menandakan plural atau jamak maka menggunakan reduplikasi, misalnya anak-anak; banyak anak. Namun dalam bahasa Inggris tidak mengenal reduplikasi sebagai penanda plural namun mereka menggunakan morfem {s} dan alomorfnya sebagai penanda jamak, misalnya cats; banyak kucing atau melakukan perubahan internal misalya kata man; laki-laki tunggal menjadi men; banyak laki-laki. b. Bahasa Indonesia tidak memiliki morfem terikat untuk menandakan waktu terhadap kata kerja, berbeda dalam bahasa Inggris yang memiliki morfem terikat sebagai penanda waktu, misalnya morfem {ed} sebagai penanda lampau seperti pada kata played. Masih banyak sekali contoh-contoh yang lain yang menunjukan bahwa setiap bahasa memiliki cara tersendiri dalam sitem morfologinya.

3) Setiap bahasa memiliki sistem sintaksis yang berbeda

Setiap bahasa memiliki cara tersendiri untuk mengungkapkan bahasanya. Bahasa Indonesia memiliki sistem sintaksis yang berbeda dengan bahasa Korea, berbeda dengan bahasa Cina, berbeda dengan bahasa Inggris dan berbeda pula dengan bahasa-bahasa lain di dunia. Sintaksis berkaitan erat dengan struktural kalimat bagaimana urutan penyusunanya. Perhatikan contoh berikut:

New home

Kata sifat, kata benda

Rumah baru

Kata benda, kata sifat

Dari contoh diatas kita bisa mengerti bahwa untuk mengungkapkan rumah baru dalam bahasa Indonesia diawali dengan kata benda dan diikuti dengan kata sifat, sedangkan dalam bahasa Inggris untuk mengungkapkan rumah baru ia mendahulukan kata sifat terlebih dahulu yang kemudian diikuti dengan kata benda. Dalam bahasa Korea misalnya objek terlebih dahulu sebelum predikat sedangkan dalam bahasa Indonesia Objek selalu dibelakang predikat, contoh;

Jo nuen capcai moksuemnida

Saya makan capcai

Jo adalah saya. Nuen adalah penanda subjek. Capcai adalah nama makanan. Mok adalah makan dan suemnida adalah penanda kata kerja. Bahasa Korea memiliki struktur sintaksis dengan subjek-objek-predikat sedangkan bahasa Indonesia memiliki struktur sintaksis dengan subjek-predikat-objek.

4) Setiap bahasa memiliki karakteristik keberagamaan leksion yang berbeda

Setiap bahasa di dunia memiliki keberagaman leksikon yang berbeda. Masyarakat yang hidup di daerah pantai maka akan memiliki keberagaman atau kekayaan leksikon yang berkaitan dengan laut sedangkan masyarakat yang hidup di daerah salju maka akan memiliki leksikon yang banyak tentang salju, dan lain sebagainya. Hal ini berarti bukan bahwa bahasa tertentu yang tidak memiliki kosakata tertentu adalah bahasa yang kurang baik. Contohnya adalah dalam masyarakat Indonesia yang hidup di daerah pertanian maka memiliki kosakata yang banyak untuk beras seperti padi, beras, nasi, menir, dan gabah. Akan tetapi dalam bahasa Inggris kita hanya mendapatakan satu kosakata yaitu rice padahal setiap leksikon beras tersebut dalam bahasa Indonesia tersebut memiliki arti semantik yang berbeda-beda. Bahasa Indonesia tidak mengenal secara rinci leksikon-leksikon onta, tetapi bahasa Arab mengenalnya dengan detail. Hal ini dikarenakan dalam masyarakat Indonesia tidak berada dalam lingkungan onta sebagai bagian hidup yang dekat.

Dari penjelasan di atas menunjukan bahwa setiap bahasa adalah unik dengan sistem bahasanya yang berbeda-beda. Sehingga bisa dikatakan bahwa setiap bahasa adalah sama dalam perspektif Linguistik. Setiap bahasa cukup bagi penggunanya, artinya setiap bahasa cukup dengan sistem bahasa dan penggunaan setiap leksikonya dalam berkehidupan.

Artikel Lainnya

Mengenal sapaan dalam bahasa Perancis
Made From, Made of, Made With
No Doubt dan Without Doubt
Bagaimana Makna Leksikal dalam Sosiolinguistik?
Penyingkatan dalam Bahasa Inggris Informal
©2019 BelajarBahasa.ID
Developed by Kodelokus Cipta Aplikasi